TURANGGA CYCLING CLUB - KUPANG - NTT, HIDUP SEHAT-RILEKS-BERBAGI INFORMASI-..-AYO RAMAIKAN BUDAYA BERSEPEDA DI KUPANG...KSK/TCC/SCC TETAP JAYA TCC-KUPANG Nusa Tenggara Timur: Oktober 2011

LOGO TCC

LOGO TCC

Kamis, 27 Oktober 2011

Setiap Dalam Hidupmu adalah Istimewa

Sahabatku membuka laci tempat istrinya menyimpan pakaian dalam dan membuka bungkusan berbahan sutra "Ini, ......", dia berkata, "Bukan bungkusan yang asing lagi". Dia membuka kotak itu dan memandang pakaian dalam sutra serta kotaknya. "Istriku mendapatkan ini ketika pertama kali kami pergi ke New York, 8 atau 9 tahun yang lalu. Dia tidak pernah mengeluarkan bungkusan ini. Karena menurut dia, hanya akan digunakan untuk kesempatan yang istimewa.

Dia melangkah dekat tempat tidur dan meletakkan bungkusan hadiah didekat pakaian yang dia pakai ketika pergi ke pemakaman. Istrinya baru saja meninggal. Dia menoleh padaku dan berkata :
"JANGAN PERNAH MENYIMPAN SESUATU UNTUK KESEMPATAN ISTIMEWA, SETIAP HARI DALAM HIDUPMU ADALAH KESEMPATAN YANG ISTIMEWA !"

Aku masih berpikir bahwa kata-kata itu akhirnya mengubah hidupku.
Sekarang aku lebih banyak membaca dan mengurangi bersih-bersih. Aku duduk di
sofa tanpa khawatir tentang apapun. Aku meluangkan waktu lebih banyak bersama keluargaku dan mengurangi waktu bekerjaku. Aku mengerti bahwa kehidupan seharusnya menjadi sumber pengalaman supaya bisa hidup, tidak semata-mata supaya bisa survive (bertahan hidup) saja.

Aku tidak berlama-lama menyimpan sesuatu. Aku menggunakan gelas-gelas kristal setiap hari. Aku akan mengenakan pakaian baru untuk pergi ke Supermarket, jika aku menyukainya. Aku tidak menyimpan parfum specialku untuk kesempatan istimewa, aku menggunakannya kemanapun aku menginginkannya.
Kata-kata "Suatu hari ....." dan Satu saat nanti ....."sudah lenyap dari kamusku. Jika dengan melihat, mendengar dan melakukan sesuatu ternyata bisa menjadi berharga, aku ingin melihat, mendengar atau melakukannya sekarang.

Aku ingin tahu apa yang dilakukan oleh istri temanku apabila dia tahu dia tidak akan ada di sana pagi berikutnya, ini yang tak seorangpun mampu mengatakannya. Aku berpikir, dia mungkin sedang menelepon rekan-rekannya serta sahabat terdekatnya. Barangkali juga dia menelpon teman lama untuk berdamai atas perselisihan yang pernah mereka lakukan. Aku suka berpikir bahwa dia mungkin pergi makan Martabak Spesial, makanan favoritnya. Semua ini adalah hal-hal kecil yang mungkin akan aku
sesali jika tak aku lakukan, jika aku tahu waktu sudah dekat.

Aku akan menyesalinya, karena aku tidak akan lebih lama lagi melihat teman-teman yang akan aku temui, juga surat-surat yang ingin aku tulis Suatu hari nanti". Aku akan menyesal ! dan merasa sedih, karena aku tidak sempat mengatakan betapa aku mencintai orangtuaku, saudara-saudaraku dan teman2ku.

Sekarang, aku mencoba untuk tidak menunda atau menyimpan apapun yang bisa membuatku tertawa dan bisa membuatku menikmati hidup. Dan, setiap pagi, aku berkata kepada diriku sendiri bahwa hari ini akan menjadi hari istimewa. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, adalah istimewa.

Apabila kamu mendapatkan pesan ini, itu karena seseorang peduli padamu, dan karena mungkin ada seseorang yang kamu pedulikan. Jika kamu terlalu sibuk untuk mengirimkan pesan ini kepada orang lain dan kamu berkata kepada dirimu sendiri bahwa kamu akan mengirimkannya "Suatu saat nanti", ingatlah bahwa "Suatu saat" itu sangat jauh ....... Dan mungkin tidak akan pernah datang ..............

Frof Gatut Koco Palsu

Bagong dan Petruk susah payah mencari tempat yang bisa membunuh Bos Gatutkaca. Sebab, mantan jago kahyangan lagi frustasi berat hendak bunuh diri. Penampilan
Gatutkaca hari ini mirip Gangster, peraih cover boy di majalah Aneka Joss ini kelihatan lesu, rambut berantakan, kumis dicukur habis. Kini si Gatutkaca mirip penyanyi Indonesian Idol, Yudika, kalau lagi berjingkrak-jingkrak.

"Bagoong and lu Petruk, cepat cari tempat agar gue bisa bunuh diri," teriaknya garang.
"Yes Bos, be patient..sabar..sabar,"jawab kedua Punokawan bersamaan.

Tapi sayang semua tempat tak mampu membuat Gatutkaca bisa bunuh diri, terjun dari hotel berbintang lantai 41 malah semangkin kuat. Lha Gatutkaca, otot kawat balung wesi. Ini malah jadi tontonan gratis buat orang-orang. Minum obat keras tak apa-apa, nabrak gunung, gunungnya yang hancur. Sampai Bagong kumpulkan ribuan dinamit tuk ledakan tubuh Gatutkaca, semua tak
Berhasil. Akhirnya Bagong dan Petruk menyerah, duduk di warung kopi, siap-siap kena damprat bosnya, si Gatut.

"Gimana lu berdue kok malah menyerah," hardik Gatutkaca.
"Gini Bos, sebenarnya kenapa ente mau bunuh diri," ujar Bagong.
Mata Gatutkaca berkaca-kaca "Gong, lamaran gue pada Miss Pergiwo ditolak. Sebabnya, papi Pergiwo ingin punya menantu yang punya gelar doktor seperti Doktor Lesmana, anak Ratu Duryudana," ujar Gatutkaca sedih.

"He…he… itu mudah bos, beri saya uang 15 juta sampeyan dapat gelar dan ijazah," Bagong tertawa ngakak.
"Betul nih Gong, nih uangnya," Gatutkaca sontak merasa ada harapan memetik primadona kota Madukara. Bagong ngebut naik Gl Max menuju tengah kota Ngamarta ke perguruan tinggi palsu. Sebuah universitas fiktif bernama IMGI (Institut Management Gelar Imitasi). Untuk memperoleh ijazah palsu IMGI, seseorang hanya perlu membayar sejumlah uang tanpa perlu mengenyam pendidikan apa pun.

Cara memperoleh ijazah palsu ini sangatlah mudah. Bagi yang berminat, tinggal menyetor duit Rp 10 juta (gelar S-1), Rp 15 juta (gelar S-2), dan Rp 25 juta (gelar S-3). Bagong menyerah dan langsung membawa ijazah doktor bertitelkan Prof Dr Gatutkaca. Sesaat kemudian Bagong temui Gatutkaca yang sangat gembira melihat ijazah ditangan Bagong. Secepat kilat Gatutkaca terbang membawa ijazah dan memasuki rumah Miss Pergiwo.

Pergiwo peraih wanita terseksi se-Karesidenan Maukara, habis mandi. Dengan muka berseri menemui Gatutkaca. Dengan harum bau shampo dan sabun rasa strobery, Gatutkaca mantap dan semangkin cinta habis kepada si gadis imut itu.

"Honey, why you disapeare from my life," Pergiwo merajuk manja
"No honey, gue tak mungkin tinggalkan elu," Gatutkaca.

"Gimana honey, doktor Lesmana sekarang lagi melamarku pada ayah," ujar Pergiwo sedih. Gatutkaca memeluknya. Kedua insan berasyik masyuk sambil pegang ijasah yang di beli tuk hadapi Arjuna, papi Pergiwo. Sementara petruk dan bagong menjaga di jendela kamar, khawatir ada apa-apa dengan Bos Gatutkaca. Benar, mendadak terjadi keributan luar bisa, polisi mengepung rumah
Arjuna.Seeorang ditangkap.Gatutkaca segera meloncat keluar kamar. Bagong dan Petruk sigap.

"Ada apa ini, kenapa rumahku dimasuki polisi," Arjuna tergagap
"Maaf, kami mau menangkap Dr Lesmana, karena dia memakai ijazah dan gelar palsu," jawab poilsi.

Arjuna tak bisa berbuat banyak. Dan membiarkan polisi menangkap Dr Lesmana, diborgol dan kemudian dibawa ke mobil polisi.
Arjuna terbengong, calon menantu yang diharapkan punya gelar ternyata menipunnya.

Besok pagi seluruh media memberitakan penyidikan IMGI dan universitas fiktif lainya di Ngamarta dan disinyalir banyak pejabat yang memaki gelar dan ijazah palsu. Bahkan mantan Wakil Presiden Kartomarmo dan mantan Kapolri dikabarkan juga memiliki ijazah palsu dari lembaga yang berbeda.

Berita ini heboh, sebagai catatan buruk pendidikan bangsa ini. Gatutkaca menyobek ijazah yang di beli di depan Pergiw, Petruk, dan Bagong.
"Honey, aku tak butuh gelar apa pun. Gatutkaca ya tetap apa adanya ini. Gelarku cuma satria Pringgandani, pacarnya pergiwo he…he.." Bagong dan Petruk menyambutnya dengan yel-yel, sementara di sudut kota Madukara anak-anak sekolah dasar terlihat giat pergi sekolah menatah harapan masa depan, sekali pun biaya sekolah di negeri ini mahal, lebih murah salah satu produk rokok yang berlogo A.

Rabu, 26 Oktober 2011

Rasanya Baru Kemarin

Rasanya baru kemarin pohon mangga di depan rumah kutanam. Saya mengambilnya dari kebun liar selagi ia masih sebesar daun ketela yang masih muda. Hati-hati saya membawanya dengan setangkup tangan yang terus merapat sampai ke rumah. Sesampainya di rumah saya langsung menanamnya di halaman depan, memagarinya, memberinya pupuk, menyiraminya setiap pagi dan sore, menghalau setiap unggas yang berupaya memaruh daunnya.

Tapi, kemarin sore kami terpaksa menebang pohon mangga itu setelah sekian tahun tak lagi berbuah. Daun-daunnya yang mulai rontok, badannya yang besar tak sanggup lagi kurangkul. Masih bertengger di persimpangan dahan besarnya sebuah rumah kayu kecil yang dulu menjadi tempat saya membaca buku.

Rasanya belum lama, saya masih senang berpangku di pelukan ibu, bermanja mengharap dongeng pengantar tidur darinya. Ibu mengerti, saya tak akan pernah tidur sebelum ia mengusap lembut punggungku selama beberapa menit sambil menggumamkan senandung nina bobo atau sholawat nabi.

Tapi hari ini, tangan lembut ibu yang biasa membelai punggungku itu sudah keriput, walau masih terasa halus tatkala kuangkat dan kulekatkan ke pipiku, atau saat aku menciumnya sebelum berangkat kerja.

Sore itu, rasanya baru saja saya menanggalkan pakaian merah putih seragam Sekolah Dasar untuk bergegas bermain sepak bola dengan teman-temanku. Masih terngiang sangat jelas di telinga ini makian ibu sepulang saya main bola lantaran tak terlebih dulu merapihkan seragam sekolah dan menggantungnya di belakang pintu kamar. Atau karena kaos yang berlumur tanah dan memberatkan ibu mencucinya.

Tapi pagi ini, seperti pagi sebelumnya, saya mencium pipi ibu sebelum berangkat ke kantor meminta ridhanya. Hari ini, tepat tujuh tahun yang lalu ibu menangis bangga melihat anaknya di wisuda.

Rasanya belum terlalu lama, saya mulai mengenal lawan jenis. Padahal saat itu saya masih bercelana pendek warna biru setiap ke sekolah. Ada seorang teman wanita yang menaruh hati karena satu hal, saya sering jadi partner belajarnya sehingga kami sering meraih ranking kelas bergantian.

Pagi menjelang subuh tadi, sebuah kecupan hangat dari istriku membangunkanku dari mimpi. Dan seperti biasa setiap minggu pagi saya mengajak dua putri cantik saya ke depan istana Bogor untuk melihat dan memberi makan rusa dari balik pagar besi istana itu. Jika masih tersisa waktu, kami sempatkan untuk beristirahat di kebun raya dan membiarkan dua peri cantik itu berlari ke sana kemari mengukur luasnya kebun.

Dan ini benar-benar, rasanya baru semalam seorang sahabat meneleponku dan berbincang lama tentang apapun. Seakan tak ada waktu lagi esok hari sehingga ia rela menghabiskan pulsanya untuk berjam-jam ngobrol denganku.

Pagi ini teleponku berdering. Di ujung telepon sana, seorang wanita menangis memberi kabar tentang kepergian suaminya menghadap Allah. Dan suaminya itu, sahabat yang semalam meneleponku.

Sahabat, demikian cepat waktu berlalu. Sementara, sekian banyak waktu itu terbuang tanpa banyak hal yang kita perbuat menjelang ajal yang datangnya pasti. Mungkin besok. Wallahu a'lam.